Hari Raya Bertepatan Hari Jumaat: Gugurkah Kewajiban Solat Jumaat?

Review By: Restoran: Menjawab Syiah
Share Button

Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata:

إذا رأيت الرجل يعمل العمل الذي قد اختلف فيه وأنت ترى غيره فلا تنهه

“Ketika kamu melihat laki-laki melakukan suatu perbuatan yang masih diperselisihkan dan kamu berpendapat lain maka ia jangan kau larang”. (Di kutip oleh Al-Khathib al-Baghdadi dalam al-Faqih wa al-Mutafaqqih (II/69))

1476762_10201216862329647_2027166840_n

Dewasa ini, kelompok yang selama ini dikenal merasa lebih baik daripada kelompok lain serta merasa paling benar dalam memahami dalil tampak semakin berani memperlihatkan khilafiyyah ditengah-tengah masyarakat. Mereka memaksakan kehendak, bahawa pendapat merekalah yang paling benar dan harus diterima oleh siapapun.

Salah satu masalah yang akhir-akhir ini kembali diperdebatkan adalah masalah shalat jum’atan yang bertepatan dengan hari raya. Padahal, jauh sebelum kelompok mereka lahir, masalah ini sudah diperselisihkan oleh ulama dan para mujtahid antara yang masih mewajibkan shalat jum’atan dan yang tidak mewajibkannya. Satu yang pasti, tidak pernah terdengar para ulama yang berbeza pendapat tersebut perselisihan yang menjurus saling hujat atau merendahkan satu terhadap lainnya.

Dan berikut ini adalah perbedaan madzhab dalam masalah ini serta hujjah dan argumentasinya:

 

1.       Madzhab Imam Ahmad bin Hanbal

 

Menurut madzhab Ahmad bin Hanbal, shalat jum’atan yang bertepatan dengan salah satu hari raya, saat masyarakat sudah melaksanakan shalat id, maka menjadi tidak wajib atau gugur dan cukup dengan shalat zhuhur biasa.

 

Hujjah mereka adalah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang berbunyi:

 

عَنْ إِيَاسِ بْنِ أَبِي رَمْلَةَ الشَّامِيِّ قَالَ شَهِدْتُ مُعَاوِيَةَ بْنَ أَبِي سُفْيَانَ وَهُوَ يَسْأَلُ زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ قَالَ أَشَهِدْتَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِيدَيْنِ اجْتَمَعَا فِي يَوْمٍ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَكَيْفَ صَنَعَ قَالَ صَلَّى الْعِيدَ ثُمَّ رَخَّصَ فِي الْجُمُعَةِ فَقَالَ مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُصَلِّ

“Dari Iyas bin Abi Ramlah asy-Syami, ia berkata: “Aku menyaksikan Mu’awiyah bin Abi Sufyan bertanya kepada Zaid bin Arqam. Dia (Mu’awiyah) bertanya: “Apakah Anda pernah menghadiri bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dua hari raya yang berkumpul dalam satu hari?”. Zaid bin Arqam menjawab: “Benar”. Lalu Mu’awiyah bertanya: “Apa yang dikerjakan oleh beliau?”. Zaid bin Arqam menjawab: “Beliau shalat id kemudian memurahkan shalat Jum’at. Beliau juga berkata: “Barang siapa yang menghendaki shalat maka silahkan ia shalat”. (HR. Ahmad bin Hanbal, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Hakim)

Status hadits ini masih diperselisihkan ulama. Perawi yang bernama Iyas bin Abi Ramlah asy-Syami dianggap majhul oleh Ibnu Qaththan dan Ibnul Mundzir. Tetapi dishahihkan oleh Ali bin al-Madini. Imam an-Nawawi sendiri dalam al-Khulashah juga menyebut sebagai hadits hasan.

Mereka juga berhujjah dengan hadits berikut:

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ قَدْ اجْتَمَعَ فِي يَوْمِكُمْ هَذَا عِيدَانِ فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنْ الْجُمُعَةِ وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ

“Dari Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Telah berkumpul dihari kalian ini dua hari raya. Maka barang siapa menghendaki (kembali/pulang ke rumah) maka itu telah mencukupi dari jum’atannya, dan kami akan melaksanakan jum’atan” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).

 

Hadits ini lemah karena perawi yang bernama Baqiyyah.

 

Selain dua hadits diatas, disebutkan pula oleh Imam Ibnu Qudamah dalam al-Mughni (IV/210) bahawa gugurnya jum’atan merupakan madzhabnya shahabat Umar, Utsman, Ali, Said, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, dan Ibnu Zubair radhiyallahu ‘anhum.

 

2.      Madzhab Atha’ bin Abi Rabah

 

Menurut Atha’ bin Abi Rabah rahimahullah, jum’atan dan juga shalat zhuhur waktu itu adalah tidak wajib atau sudah gugur dengan melaksanakan shalat id.

 

Dalam sebuah riwayat disebutkan:

 

عَنْ عَطَاءٍ، قَالَ: صَلَّى ابْنُ الزُّبَيْرِ الْعِيدَ يَوْمَ جُمُعَةٍ، أَوَّلَ النَّهَارِ، ثُمَّ رُحْنَا إلَى الْجُمُعَةِ، فَلَمْ يَخْرُجْ إلَيْنَا، فصلينا وُحدنا، وَكَانَ ابْنُ عَبَّاسٍ بِالطَّائِفِ، فَلَمَّا قَدِمَ ذَكَرْنَا ذَلِكَ لَهُ، فَقَالَ: أَصَابَ السُّنَّةَ، أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُد، قَالَ النَّوَوِيُّ: سَنَدُهُ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ.

Atsar dari Atha’, ia berkata: “Ibnu Zubair shalat id dihari Jum’at dipermulaan hari. Kemudian kami berangkat shalat jum’at tetapi Ibnu Zubair tidak keluar. Kemudian kami shalat sendirian. Semantara itu Ibnu Abbas berada di Thaif. Ketika ia datang, kami ceritakan kejadian itu, dan ia berkata: “Ibnu Zubair mencocoki sunnah”. (Dikeluarkan oleh Abu Dawud).

Imam an-Nawawi berkata: “Sanadnya sesuai dengan syarat Muslim”.

Sesuai dengan atsar tersebut, Atha bin Abi Rabah mengatakan, bahwa jika masyarakat telah melaksanakan shalat id, maka pada hari itu mereka tidak wajib lagi melaksanakan shalat jum’at dan juga shalat zhuhur. Dan hukum ini berlaku bagi semuanya, baik penduduk balad (kota) atau penduduk desa.

Tetapi pendapat Atha’ bin Abi Rabah ini tidak dikuti sama sama sekali oleh MAJORITI ulama.

 

Al-Hafizh Badruddin al-Aini dalam Syarah Sunan Abi Dawud (IV/401), setelah mengutip pendapat Atha’ bin Abi Rabah, berkata:

 

ولم يقُلْ به أحدٌ من الجُمهور؛ لأن الفَرضَ لا يَسْقط بالسُّنًة

“Pendapat Atha’ ini sama sekali tidak dikatakan oleh majoriti ulama, lantaran ibadah wajib tidak boleh gugur sebab sunat”.

 

3.      Madzhab Majoriti Ulama

 

Menurut majoriti ulama, baik dari kalangan madzhab Malikiyyah, Hanafiyyah, dan Syafi’iyyah, bahwa jum’atan tidak gugur dengan hanya mengerjakan shalat id. Alasan mereka adalah bahawa dalil tentang kewajiban shalat jum’at tetap berdiri umum tanpa ada yang mentakhsishnya sama sekali.

 

Al-Hafizh Badruddin al-Aini dalam Syarah Sunan Abi Dawud (IV/397) berkata:

 

وقالت عامة الفقهاء: تجب الجمعة لعموم الآية والأخبار الدالة على وجوبها

“Kebanyakan ahli fikih berkata: “Jum’atan tetap wajib karena keumuman ayat dan hadits-hadits yang menunjukan wajibnya jum’atan”.

 

Dari sini dapat disimpulkan, letak perselisihan antara madzhab Hanabilah dengan madzhab majoriti adalah kekuatan hujjah hadits yang dibuat dalil madzhab Hanabilah. Apakah hujjah tersebut dianggap mampu mentakhshish keumuman dalil yang menunjukkan wajibnya jum’atan atau tidak?

Imam Muhammad Syamsul Haq Abu Thayyib dalam Aun al-Ma’bud (III/287) berkata:

 

وذهب الشافعي وجماعة إلى أنها لا تصير رخصة مستدلين بأن دليل وجوبها عام لجميع الأيام وما ذكر من الأحاديث والآثار لا يقوى على تخصيصها لما في أسانيدها من المقال قال في السبل قلت حديث زيد بن أرقم قد صححه بن خزيمة ولم يطعن غيره فيه فهو يصلح للتخصيص فإنه يخص العام بالآحاد

“Imam asy-Syafi’i dalam segolongan ulama berpendapat bahwa shalat jum’at tidak menjadi rukhshah (dimurahkan) dengan alasan bahawa dalil tentang kewajiban jum’aan adalah umum untuk semua hari. Apa yang disebutkan dalam hadits dan atsar tidak cukup kuat untuk mentakhsisnya karena di dalam sanadnya masih dibicarakan. Ash-Shan’ani dalam Subul as-Salam berkata: “Aku berkata: “Hadits Zaid bin Arqam dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan tidak dicela yang lain. Dan itu sudah cukup layak untuk mentakhshish, karena yang umum boleh ditakhsish dengan hadits ahad”.

Alasan lain dikemukakan oleh Imam al-Qurthubi dalam at-Tamhid (X/271). Ia berkata:

أما الآثار المرفوعة في ذلك فليس فيها بيان سقوط الجمعة والظهر ولكن فيها الرخصة في التخلف عن شهود الجمعة وهذا محمول ثم أهل العلم على وجهين أحدهما أن تسقط الجمعة عن أهل المصر وغيرهم ويصلون ظهرا والآخر أن الرخصة إنما وردت في ذلك لأهل البادية ومن لا تجب عليه الجمعة

“Adapun atsar yang marfu’ dalam masalah itu, maka itu tidak boleh dibuat penjelasan gugurnya jum’atan dan shalat zhuhur, tetapi itu bentuk kemurahan dalam menghadiri jum’atan. Dan ini ditahmilkan. Dan menurut ahli ilmu (tahmilnya) terdapat dua wajah. Pertama, jum’atan gugur bagi penduduk kota (mishr) dan yang lain dan mereka hanya shalat zhuhur. Sementara yang lain berkata, bahwa rukhshah itu berlaku bagi penduduk desa dan orang yang tidak wajib jum’atan”.

Al-Qurthubi dalam kitab sama juga berkata:

وفي ذلك دليل على أن فرض الجمعة والظهر لازم وأنها غير ساقطة وأن الرخصة إنما أريد بها من لم تجب عليه الجمعة ممن شهد العيد من أهل البوادي والله أعلم وهذا تأويل تعضده الأصول وتقوم عليه الدلائل ومن خالفه فلا دليل معه ولا حجة له.

“Dan dalam semua itu merupakan dalil bahwa kewajiban jum’atan dan zhuhur adalah tetap dan tidak gugur. Dan kemurahan tersebut adalah dikehendaki orang yang tidak wajib jum’atan dari orang yang desa yang telah menghadiri id. Wallahu a’lam. Dan ta’wil ini dikuatkan kaidah ushul dan dikuatkan dengan dalil. Dan siapa yang menyelisihinya maka dia tidak punya dalil dan hujjah”.

Tetapi dalam madzhab Syafi’iyyah sendiri, masalah ini diperinci. Sebagaimana dalam Fatawa al-Azhar (VIII/489) bahawa shalat id telah mencukupi dari shalat jum’atan bagi penduduk desa (kecil) yang tidak memenuhi kuota (40 orang ) ahli jum’at sementara mereka mendengar adzan dari daerah lain yang di sana diadakan jum’atan (karena telah menetapi syarat).

Dalam kitab Bughyah al-Mustarsyidin (hal. 187) dikatakan:

 

فمذهبنا أنه إذا حضر أهل القرى والبوادي العيد وخرجوا من البلاد قبل الزوال لم تلزمهم الجمعة وأما أهل البلد فتلزمهم

“Madzhab kami, jika penduduk desa dan pedalaman sudah menghadiri shalat id, dan mereka keluar dari balad sebelum matahari tergelincir, maka mereka tidak wajib jum’atan. Adapun penduduk balad maka mereka tetap wajib jum’atan”

 

Balad adalah daerah yang terdapat pasar-nya, atau hakim syariat, atau polisi (bisa salah satu saja). Sedangkan desa (qaryah) adalah daerah yang tidak ada sama sekali dari tiga tersebut. Sedangkan badiyah adalah orang yang tidak menetap dalam satu bangunan karena biasanya hidup mereka berpindah-pindah. Dan qaryah di sini yang dikehendaki adalah penduduk desa yang tidak ada 40 orang yang wajib jum’atan sebagaimana dalam fatwa al-Azhar.

 

Hujjah alasan ini adalah ucapan Utsman bin Affan berikut:

 

 عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ أَنَّهُ خَطَبَ يَوْمَ عِيدٍ، فَقَالَ: يا أيها النَّاسُ، إنَّ هَذَا يَوْمٌ قَدْ اجْتَمَعَ لَكُمْ فِيهِ عِيدَانِ، فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْتَظِرَ الْجُمُعَةَ مِنْ أَهْلِ الْعَوَالِي، فَلْيَنْتَظِرْ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَرْجِعَ، فَقَدْ أَذِنْت لَهُ، أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ فِي حَدِيثٍ طَوِيلٍ

“Dari Utsman bin Affan, ia berkhutbah di hari raya Id. Ia berkata: “Wahai sekalian manusia, sungguh ini adalah hari dimana ada dua hari raya yang berkumpul (Jum’at dan id). Maka barang siapa dari penduduk “aliyyah” (desa yang berdekatan dengan Madinah dari arah timur) yang suka menunggu jum’atan, maka silahkan ia menunggunya. Dan barang siapa yang ingin kembali maka aku mengizininya” (Dikeluarkan oleh al-Bukhari)

 

Imam an-Nawawi dalam al-Majmu’ (IV/492) berkata:

 

قد ذكرنا ان مذهبنا وجوب الجمعة علي اهل البلد وسقوطها عن عن اهل القرى وبه قال عثمان ابن عفان وعمر بن عبد العزيز وجمهور العلماء

“Telah kami sebutkan, bahwa madzhab kami adalah wajib jum’atan bagi penduduk balad dan gugur jum’atannya bagi penduduk desa. Dan ini dikatakan oleh Utsman bin affan, Umar bin Abdil Aziz dan mayoritas ulama”.

 

Wallahu A’lam.

 

Ditulis Oleh Ustaz Nur Hidayat

Share Button
Hari Raya Bertepatan Hari Jumaat: Gugurkah Kewajiban Solat Jumaat? | aswj-rg.com | 4.5